Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu Mata
Kuliah Sistem Informasi Akuntansi dengan identitas mahasiswa sebagai berikut :
Nama :
Istifah Rianar
NPM :
113080105
Kelas :
4.D
Prodi :
Pendidikan Ekonomi
Mata Kuliah :
Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
Dosen :
Moh. Joharudin, S.Pd. M.Pd
Pertemuan Ke : 4 (Empat)
Hari/Tanggal : Kamis / 08 Desember 2016
Pemrosesan
Transaksi Dan Proses Kontrol Internal
1.
Pengertian
Pemrosesan Transaksi
Salah satu tujuan sistem informasi
adalah mendukung operasi harian perusahaan. Tujuan ini dicapai melalui
pemrosesan transaksi-transaksi yang disebabkan baik oleh sumber-sumber ekstern
maupun intern, dan menyiapkan keluaran-keluaran seperti dokumen-dokumen
operasional dan laporan-laporan keuangan.
Sistem Pemrosesan Transaksi (SPT) adalah
bentuk sistem infromasi yang berfungsi merekam semua aktivitas/kejadian didalam
perusahaan sistem pemrosesan transaksi merupakan suatu informasi yang
terkomputerisasi yang dikembangkan untuk memproses data-data dalam jumlah besar
untuk transaksi bisnis rutin seperti daftar gaji, penjualan, pemesanan hotel,
pencatatan karyawan dan pengiriman. Sistem pemrosesan transaksi Meliputi
mencatat data, memproses data dan menghasilkan informasi baku atau standart.
Sistem pemrosesan transaksi hampir selalu dimiliki oleh suatu perusahaan,
organisasi, intansi pemerintah karena didalam suatu perusahaan atau organisasi,
transaksi selalu terjadi dan setiap transaksi yang terjadi harus dicatat.
Sebelum transaksi
diproses, kita terlebih dahulu harus mengidentifikasikan data-data transaksi
yang dibutuhkan dalam suatu laporan keuangan. Kita tidak perlu mengumpulkan
transaksi yang tidak dibutuhkan oleh suatu laporan keuangan. Jadi kesimpulannya
kita memulai pemrosesan suatu transaksi akuntansi harus diawali mulai dari atas
bukan dari bawah (laporan keuangan). Dimulai dari desain laporan keuangan,
kemudian pembuatan bagan rekening, setelah itu diidentifikasikan berdasarkan
siklus transaksi, dan yang terakhir baru dibuat ayat jurnalnya.
1.
Bagan Rekening
Daftar
yang menguraikan semua rekening yang digunakan dalam pembuatan laporan
keuangan. Kegiatan pembuatan bagan arus tersebut tidak terlepas dari kegiatan
pengkodean.
2.
Pengkodean
Untuk
membantu dalam pengumpulan maupun pemrosesan transaksi biasanya diberi suatu
kode. Dimana kode adalah suatu kerangka yang menggunakan huruf atau angka (atau
kombinasi keduanya) untuk memberikan tanda terhadap klasifikasi yang sebelumnya
telah dibuat (bagan rekening).
Tujuan Pengkodean
1).
Mengidentifikasi data akuntansi secara unik
2).
Meringkas data
3).
Mengklasifikasikan rekening/transaksi
4).
Menyampaikan makna tertentu
Metode Pengkodean:
1). Kode
angka atau huruf berurutan.
Dalam
metode ini tiap rekening diberi kode angka atau huruf secara berurutan.
2). Kode
angka blok
Dalam
pemberian kode ini rekening dikelompokkan menjadi beberapa golongan dan tiap
golongan disediakan satu blok angka yang berurutan untuk memberi kodenya.
3). Kode
angka kelompok
Kode
kelompok diberikan dengan memberikan nomor kode untuk setiap kelompok, golongan,
subgolongan dan jenis rekening.
4). Kode
Mnemonic
Pemberian
kode dengan menggunakan Huruf yang disingkat mendekati bentuk aslinya,
misalnya, Aktiva lancar = AL, Jurnal Penjualan = JP, dsb.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian Kode :
1. Setiap
kode harus mewakili secara unik unsur yang diberi kode.
2. Desain
kode harus mudah disesuaikan dengan tuntutan perubahan.
2. Komponen-Komponen Pemrosesan Transaksi
Pemrosesan transaksi
terjadi dalam suatu proses. Proses ini dikenal sebagai siklus akunting. Siklus
akunting membutuhkan beragam komponen pembangun. Komponen-komponen ini meliputi
input, proses penyimpanan, output.
1. Input
Input
dalam suatu proses transaksi adalah dokumen sumber yang dapat berupa formulir
atau bukti transaksi lainnya. Contoh: pesanan konsumen, slip penjualan, faktur,
kartu absen karyawan. Dokumen sumber menyediakan catatan-catatan tertulis
dokumen sumber berfungsi:
a.
Memicu mengotorisasi operasi fisik
Sebagai
contoh surat pesanan penjualan mengotorisasi pengiriman barang dan gangguan
kepada pelanggan.
b. Memantau
arus fisik
Misalnya surat pesanan penjualan
digunakan untuk memperlihatkan pergerakan barang pesanan dari gudang ketempat
pengiriman.
c. Mencerminkan
akuntabilitas atas tindakan yang diambil
Misalnya tagihan dari pemasok diparaf
untuk memperlihatkan bahwa tagihan ini sudah diperiksa kebenarannya.
d. Menjaga
kemutakhiran dan kelengkapan basis data.
Sebagai contoh faktur penjualan
digunakan untuk memutakhirkan saldo dalam catatan sediaan. Catatan pelanggan
dan kemudian diarsipkan untuk kepentingan riwayat penjualan.
e. Menyediakan
data yang dibutuhkan untuk keluaran.
Misalnya data yang dibutuhkan untuk
keluaran misalnya data dalam surat pesanan penjualan digunakan untuk menyiapkan
faktur penjualan dan ikhtiar penjualan.
2.
Proses
Dalam system manual terdiri dari
kegiatan pemasukan data transaksi kedalam jurnal. Dalam sistem komputer,
prosesnya dilakukan dengan memasukan data kedalam file transaksi jurnal digunakan
untuk mencatat transaksi akuntansi keuangan. Register digunakan untuk mencatat
jenis lain data yang tidak terkait secara langsung dengan akuntansi.
3.
Penyimpanan
Media penyimpanan dari transaksi secara
manual adalah buku besar. Buku besar ini menyediakan ikhtisar
transaksi-transaksi keuangan perusahaan. Proses pemasukkan data dari jurnal
kedalam buku besar disebut “POSTING”. Untuk sistem komputer, posting ini
dilakukan dengan mengudate file master menggunakan file transaksi. Contoh: file
transaksi, file master, dan file referensi atau tabel.
1. Master
File merupakan kumpulan cacatan (record) yang bersifat tetap dan berisi data
yang selalu disesuaikan denan keadaan. Dalam operasi manual master file setara
dengan buku besar dan buku besar pembantu.
2. File
Transaksi merupakan kumpulan catatan transaksi yang terjadi yang digunakan
untuk mengupdate master file. Dalam operasi manual file transaksi ini sama
dengan jurnal.
3. File
Indeks merupakan master file yang berisi data yang digunakan dalam proses
penyesuaian suatu master file. File Pelanggan (berisi No. Pelanggan, alamat,
maksimum kredit, digunakan sebagai petunjuk untuk menyesuaikan file piutang)
4. File
Table merupakan suatu master file yang berisi data yang digunakan sebagai
referensi dalam memproses suatu file. Biasanya berisi data yang bersifat tetap
yang digunakan dalam perhitungan-perhitungan, seperti file gaji karyawan yang
digunakan untuk menyusun daftar gaji, file tarif pajak penghasilan yang
digunakan untuk menghitung potongan pajak penghasilan karyawan.
4.
Output
Jenis keluaran yang dihasilkan dari
proses transaksi, antara lain: laporan keuangan, laporan operasional, dokumen
pengiriman, faktur, dan neraca saldo.
3.
Arus
Pemrosesan Transaksi
Tiap-tiap sistem
pemrosesan transaksi menggabungkan komponen-komponen yang telah disinggung
sebelumnya ketika transaksi menjalani keseluruhan siklus akunting. Pada bagian
ini kita menelusuri arus penjualan, penerimaan tunai, pembelian, pengeluaran
tunai, dan transaksi pembayaran gaji.
Pada usaha perdagangan
yang biasa melakukan transaksi bisnis secara kredit, umumnya memiliki deskripsi
tugas dan fungsi masing-masing sebagai berikut:
1.
Pelanggan memesan barang dengan dengan
mengirim surat pemesanan kepada perusahaan. Bagian kredit, kemudian meneliti
kemampuan kredit pelanggan. Apabila disetujui, bagian penjualan akan
memerintahkan bagian gudang mengirimkan barang kebagian pengiriman. Bagian
pengiriman lalu mengecek kesesuaian antara barang dan isi surat pesanan. Jika
sesuai, bagian pengiriman akan membungkus barang, menyiapkan dokumen dan
menghubungi perusahaan pengangkutan. Setelah diterima pelanggan, akan muncul
piutang atas pelanggan.
2.
Berdasarkan pemesanan. Bagian pemasaran
akan menganalisis pesanan berdasarkan jenis, wilayah, dan segmentasi lainnya.
Dari hasil analisis dapat dijadikan parameter yang relevan untuk tingkat
penjualan pemasaran, dapat memprediksi kebutuhan persediaan yang akan datang.
3.
Berdasarkan perkiraan kebutuhan
persediaan. Jika barang telah mendekati titik pemesanan, kembali petugas
mencatat mengajukan permintaan pembelia. Pada bagian pembelian, akan dibuatkan
surat pemesanan kepada pemasok. Pada saat barang diterima dari pemasok,
dibandingkan dengan surat pesanan dan dimasukan kegudang, dan muncul utang
perusahaan terhadap pemasok.
4.
Dalam perkiraan penjualan juga
diperhitungkan kebutuhan tenaga kerja, yang kemudian berimplikasi pada
manajemen sumber daya, apakah membutuhkan perekrutan sumber daya baru atau
tidak,. Perekrutan atau mutasi harus dicacat didalam sistem administrasi
karyawan, dan prestasi karyawan dicatat dalam kartu kerja (job time ticket) dan kartu absensi (time clock card) kepada mereka diberi imbalan gaji dan upah yang
sesuai.
5.
Gaji dan upah menimbulkan dampak pada
pengeluaran kas. Daftar gaji yang sudah diperhitungkan pajak dan potongan
lainnya diberikan kekasir untuk dibagikan, dan utang dagang juga berimplikasi
pada pengeluaran kas. Kemudian, dokumen tersebut diberikan kekasir untuk
dibayarkan, dan pada saat jatuh tempo pelanggan juga akan melunasi hutangnya.
Penerimaan dan pengeluaran kas akan diperhitungkan dalam akuntansi dan aliran
kas.
Mengingat transaksi
dalam suatu perusahaan terjadi secara rutin. Misalnya ribuan transaksi dari
suatu jenis tertentu (penjualan ke pelanggan) bisa terjadi setiap hari. Untuk
menghadapi volume yang besar tersebut secara efisiensi perusahaan mengelompokan
jenis-jenis transaksi yang sama kedalam siklus-siklus transaksi. Siklus
transaksi terdapat tiga siklus aktivitas bisnis, antara lain
1) Siklus
Pendapatan
Kejadian yang terkait dengan distribusi
barang dan jasa ke entitas lain dan pengumpulan kas yang terkait dengan
distribusi tersebut. Aktivitas siklus pendapatan menggambarkan proses penjualan
barang jadi selesai diproduksi. Aktivitas ini melibatkan berbagai sub sistem,
yaitu sistem penerimaan kas, sistem piutang dagang, dan sistem penjualan
kredit. Aktivitas pendapatan ini berawal dari penawaran yang datang dari
pemesan dan setelah melalui proses pengiriman barang pada periode berikutnya,
akan muncul pembayaran dari pelanggan. Aktivitas ini dapat mempengaruhi
pencatatan transaksi pada piutang, persediaan dan penerimaan kas dan setoran kas
ke bank.
2) Siklus
Pengeluaran
Kejadian yang terkait dengan perolehan
barang dan jasa ke entitas lain dan pelunasan kewajiban terkait dengan
perolehan barang dan jasa. Siklus pengeluaran merupakan segala sumber daya yang
berkaitan dengan tenaga kerja, bahan baku, dan properti yang diwujudkn dalam
bentuk pertukaran dengan peredaran kas yang digunakan sebagai menjalankan
aktivitas transaksi perusahaan. Misalnya pembayaran upah tenaga kerja, baik
lanngsung maupun tidak langsung, biaya pembelian bahan baku dan bahan pembantu,
berikutnya adalah kegiatan penggunaan alat untuk memproduksi (mesin, kendaraan,
gedung pabrik/kantor), semua aktivitas yang berkait dengan penerimaan dari
pembelian bahan baku, peralatan akan mengakibatkan perubahan terhadap akun
utang dagang, persediaan, dan pengeluaran kas. Aktivitas penggunaan tenaga
kerja akan mempengaruhi akun pembayaran gaji karyawan dan pengeluaran kas.
3) Siklus
Konversi
Siklus konversi merupakan aktivitas yang
dilakukan untuk memproses bahan baku menjadi barang jadi, kegiatan ini biasanya
dilakukan pada perusahaan manufaktur. Sedangkan kegiatan yang dilakukan pada
perusahaan dagang dan jasa, kegiatan konversi ini tidak terlihat secara nyata,
biasanya siklus konversi akan terlihat pada kegiatan pengembangan produk atau jasa
yang akan dijual. Kegiatan konversi pada perusahaan manufaktur akan melibatkan
berbagai subsistem dalam sistem informasi akuntansi, misalnya sistem produksi
dan sistem akuntansi biaya. Sistem produksi akan melakukan kegiatan perencanaan
dan menetapkan semua aktivitas penggerakan bahan baku menjadi barang jadi
dipabrik, sedangkan sistem akuntansi biaya melakukan kegiatan penganalisisan
dan menginformasikan segala sesuatu pemakaian biaya didalam memproduksi barang.
4.
Pengertian
Kontrol Internal
Commitee
on Auditing Procedure American Institute of Carified Public Accountan (AICPA)
mengemukakan bahwa pengendalian internal mencakup rencana organisasi dan semua
metode serta tindakan yang telah digunakan dalam perusahaan untuk mengamankan
aktivanya, mengecek kecermatan dan keandalan data akuntansi, memajukan
efesiansi operasi, dan mendorong ketaatan pada kebijakan yang telah ditetapkan.
Kemudian Hartanto (1997) menjelaskan, pengendalian internal dengan membedakan
kedalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit pengendalian
internal disamakan dengan internal check yang
merupakan mekanisme pemeriksaan ketelitian dan administrasi. Sedangkan dalam
arti luas, pengendalian internal disamakan dengan management control, yaitu suatu sistem yang meliputi semua cara
yang digunakan oleh pemimpin perusahaan untuk mengawasi dan mengendalikan
perusahaan.
Sesuai dengan definisi
yang dikemukakan AICPA, maka dapat dirumuskan tujuan dari pengendalian
internal, yaitu:
1. Menjaga
keamanan harta miliki perusahaan;
2. Memeriksa
ketelitian dan kebenaran informasi akuntansi.
3. Meningatkan
efisiensi operasional perusahaan; dan
4. Membantu
menjaga kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan.
Pengendalian diperlukan
untuk mengurangi eksposur-eksposur. Suatu organisasi dipengaruhi oleh eksposur
yang dapat memberi akibat buruk bagi operasinya, bahkan sekalipun organisasi
itu berjalan dengan baik. Banyak aspek dari pemrosesan komputer cenderung
secara signifikan meningkatkan eksposur terjadinya kejadian yang tidak
menyenangkan. Analisis eksposur dalam organisasi sering dikaitkan dengan konsep
siklus transaksi harus mengembangkan tujuan pengendalian yang rinci untuk
setiap siklus transaksi.
Eksposur adalah objek
yang rentan terhadap resiko dan berdampak pada kinerja perusahaan apabila resiko
yang diprediksikan benar-benar terjadi. Eksposur yang paling umum berkaitan
dengan ukuran keuangan, misalnya harga saham, laba, pertumbuhan penjualan dan
sebagainya.
Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian intern
dapat dibagi menjadi dua yaitu Pengendalian
Intern Akuntansi (Preventive Controls) dan Pengendalian Intern Administratif (Feedback
Controls).
Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah
terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa
keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan
tanggung jawab antar unit organisasi.
Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong
dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan
manajemen.(dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh :
pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil
tindakan.
5.
Unsur
Sistem Kontrol Internal
Agar suatu sistem
pengendalian internal dapat berjalan secara efektif seperti yang diharapkan,
harus memiliki unsur pokok yang dapat mendukung prosesnya. Adapun unsur pokok
sistem pengendalian internal adalah sebagai berikut:
1. Struktur
Organisasi; merupakan suatu kerangka pemisahan tanggung jawab secara tegas
berdasarkan fungsi dan tindakan unit yang dibentuk. Prinsip dalm menyusun
struktur organisasi, yaitu pemisahan antara setiap fungsi yang ada dan suatu
fungsi jangan diberi tanggung jawab penuh melaksanakan semua tahapan kegiatan.
Hal ini bertujuan supaya tercipta mekanisme saling mengendalikan antarfungsi
secara maksimal.
2. Sistem
wewenang dan prosedur pencatatan dalam organisasi. Struktur organisasi harus
dilengkapi dengan uraian tugas yang mengatur hak dan wewenang masing-masing
tingkatkan beserta seluruh jajarannya. Uraian tugas harus didukung petunjuk
prosedur berbentuk peraturan pelaksanaan tugas disertai penjelasan mengenai
pihak-pihak yang berwenang mengesahkan kegiatan, kemudian berhubungan dengan
pencatatan harus disertai pula prosedur yang baku. Prosedur pencatatan yang
baik menjamin ketelitian dan keandalan data dalam perusahaan. Transaksi terjadi
apabila telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan setiap dokumen
memiliki bukti yang sah, ada paraf dan tanda tangan pejabat yang memberi
otorisasi.
3. Pelaksanaan
kerja secara sehat. Tata cara kerja secara sehat merupakan pelaksanaan yang
dibuat sedemikian rupa sehingga mendukung tercapainya tujuan pengendalian internal
yang ditunjukkan dalam beberapa cara. Unsur kehati-hatian penting dijaga agar
tidak seorang pun menangani transaksi diawal sampai akhir sendirian, haru
rolling antar pegawai, melaksanakan berbagai tugas yang telah diberikan,
memeriksa kekurangan dalam pelaksanaan, serta menghindari kecurangan.
4. Pegawai
berkualitas. Salah satu unsur pokok penggerak organisasi ialah karyawan, karyawab
harus berkualitas agar organisasi memiliki citra berkualitas. Secara umum,
kualitas karyawan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu pendidikan, pengalaman, dan
akhlak. Tidak hanya berkualitas, tetapi kesesuaian tanggung jawab dan pembagian
tuga perlu diperhatikan. Pegawai yang berkualitas dapat ditentukan. Pegawai
yang berkualitas dapat ditentukan berdasarkan proses rekruitmen yang dilakukan
kepada mereka, apakah berbasis profesional atau berdasarkan carity (kedekatan teman).
6. Komponen-Komponen Kontrol
Internal
Komponen pengendalian
internal sangat dipengaruhi oleh kejadian atau hubungan antar masing-masing
komponen dalam sistem pengendalian internal. Terdapat lima komponen
pengendalian internal, yaitu sebagai berikut:
1. Lingkungan
Pengendalian
Lingkungan pengendalian ini merupakan
persepsi perorangan dalam perusahaan tentang pentingnya pengendalian internal.
Pimpinan perusahaan harus menunjukan komitmennya terhadap pelaksanaan kontrol
yang ketat dan kebijakannya secara sadar dan langsung diikuti oleh para
bawahan. Suasana seperti ini merupakan lingkungan pengendalian yang efektif
diterapkan dalam perusahaan. Dalam praktiknya lingkungan pengendalian itu
meliputi hal berikut ini:
a. Komitmen
atas integritas dan nilai etika.
Perusahaan dapat menetapkan kesetiaan
yang dijadikan sebagai prinsip dasar operasional dan mengambangkan kebijakan
tertulis dengan jelas, dalam praktiknya dapat mendeskripsikan perilaku jujur
dan tidak jujur. Seluruh tindakan tidak jujur harus diinvetigasi secara
menyeluruh dan mereka yang dianggap bersalah, harus dibebastugaskan agar nilai
etika tetap terjaga dalam membantu proses pengendalian.
b. Filosofi
dan gaya beroperasi
Filosofi merupakan pemikiran dan
keyakinan dasar yang menjadi tolak ukur bagi perusahaan. Gaya operasi
mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi suatu kesatuan harus
dilaksanakan, sehingga gaya beroperasi bervariasi, ada yang bersifat demokrasi,
ada juga bersifat komando.
c. Struktur
organisasi
Struktur yang tegas dan jelas menunjukan
batas wewenang seseorang melalui garis komando dan mentapkan garis otoritas
serta tanggung jawab, termasuk sentralisasi atau desentralisasi otoritas,
penetapan tanggung jawab untuk tugas tertentu, pembagian wewenang terhadap
tanggung jawab seseorang mempengaruhi informasi manajemen.
d. Badan
audit an dewan komisasris
Komite audit bertanggung jawab mengawasi
struktur pengendalian internal perusahaan, proses pelaporan keuangannya, dan
kepatuhan terhadap peraturan serta standar yang terkait. Komite berhubungan
secara dekat dengan auditor eksternal dan internal perusahaan. Peninjauan ini
berfungsi untuk memeriksa integritas manajemen guna meningkatkan kepercayaan
publik yang berinvestasi atas kesesuaian pelaporan keuangan.
e. Metode
manajemen
Metode ini merupakan pola manajemen
mengendalikan operasional perusahaan sesuai sumber daya yang ada yang diarahkan
guna mencapai tujuan bisnis tertentu serta membuat sumber daya bertanggung
jawab untuk kepentingan pengembangan usaha.
f. Pengaruh
eksternal
Pengaruh dari pihak luar juga memberikan
peranan yang signifikan terhadap operasional perusahaan seperti persyaratan
bursa efek, persyaratan pertauran lebaga lain, bank, saran umum, dan perusahaan
asuransi. Pengaruh ini harus dikelola maksimal untuk memberdayakan perusahaan.
2. Aktivitas
Pengendalian.
Aktivitas pengendalian merupakan
sekumpulan peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan dan digariskan untuk
tujuan keberhasilan pengendalian dalam perusahaan. Aktivitas pengendalian pada
dasarnya berbentuk pengendalian yang menggunakan pendekatan berbasis teknologi
informasi dan pengendalian yang menggunakan pendekatan manual.
Pengendalian berdasarkan teknologi
informasi secara khusus berkaitan dengan lingkungan teknologi dari pengendalian
umum dan pengendalian aplikasi. Pengendalian umum meliputi kegiatan yang
berhubungan dengan audit teknologi informasi, yang ditujukan melindungi
lingkungannya agar dikelola secara baik, sehingga proses pengendalian
mendapatkan dukungan lebih efektif. Berkaitan dengan pengendalian aplikasi
lebih ditujukan untuk mencegah, mendeteksi dan memperbaiki kesalahan pada
pengolahan data sitem komputer.
3. Penilaian
Resiko
Pendekatan strategi manajemen resiko
merupakan instrumen penting dalam mengontrol bisnis perusahaan. Sistem
pengendalian harus dievaluasi secara berkala efekivitasnya. Organisasi harus
melakukan penialaian risiko untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengatur
risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan. Dampak dari perencanaan strategi
dan operasional serta keuangan dan informasi akan menimbulkan risiko bisnis,
beberapa kebijakan bisa berakibat yang lebih besar serta kemungkinan muncul
lebih besar. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terkait dengan biaya dan
manfaat pengendalian harus direncanakan dan diperhitungkan secara cermat
sehingga kegagalan dan risiko dapat diminimalisir dampaknya.
4. Kualitas
Informasi dan Komunikasi
Kualitas informasi yang dihasilkan
memberi dukungan penuh keberhasilan pimpinan membuat keputusan bisnis,
informasi laporan yang dihasilkan SIA membantu pimpinan membuat keputusan
terkait dengan operasi perusahaan serta bagaimana informasi keuangan yang
dibuat dapat dikomunikasikan secara cepat dan akurat. Informasi keuangan yang
dihasilkan harus akurat, didukung data dan fakta sehingga memiliki nilai
penting untuk dijadikan sebagai pengambilan keputusan. Informasi mengacu pada sistem
akuntansi organisasi, yang terdiri dari metode dan catatan yang diciptakan
untuk mengidentifikasi, merangkai, menganalisis, mengelompokkan, mencatat, dan
melaporkan transaksi organisasi dan untuk memelihara akuntabilitas aktiva dan
utang yang terkait. Komunikasi terkait dengan memberikan pemahaman yang jelas
mengenai semua kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengendalian.
Komunikasi yang baik membutuhkan komunikasi oral yang efektif, manual prosedur
yang memadai, manual kebijakan, serta berbagai jenis dokumentasi yang
lain. Komunikasi yang efektif juga membutuhkan aliran arus informasi dalam
organisasi yang memadai. Informasi semacam ini dibutuhkan untuk mengevaluasi
kinerja, membuat laporan perkecualian, dan lain sebagainya.
5. Pengawasan
Pengawasan yang efektif dilakukan untuk
meningkatkan kinerja bukan untuk menghilangkan kinerja dan prestasi perusahaan.
Penilaian aktivitas dan sistem
seperti, Sistem informasi organisasi Struktur pengendalian internal
organisasi, Sejauh mana ketaatan terhadap kebijakan operasi, prosedur,
dan rencana, Kualitas kinerja personel organisasi. Pengawasan
yang dilakukan antara lain:
a. Supervisi
yang efektif. Supervisi bertindak sebagai model pengembangan maksimum pegawai
menjadi sesorang yang profesional dan efisien menurut kemampuannya. Kegiatan
supervisi bukan mengukur kinerja atau mencari kesalahan, namun hal ini sebagai
upaya membantu pihak lain mengatasi kesulitan dan meningkatkan motivasi kerja
secara mandiri dan berkelanjutan.
b. Akuntansi
pertanggungjawaban. Pengawasan terhadap sistem akuntansi pertanggungjawaban
menunjukan informasi yang terikat dengan anggaran, kuota, jadwal, biaya
standar, dan standar kualitas, kemudian apabila ada ditemukan hal-hal berbeda
antara perencanaan kinerja dengan hasil yang diperoleh, maka harus segera
dilakukan tindakan.
c. Audit
Internal. Pengawasan kegiatan melakukan peninjauan ulang terhadap keefektifan
pengendalian internal merupakan peranan yang selalu dilakukan seorang auditor
internal. Motivasi pegawai dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai
pertauran yang berlaku serta efektivitas dan efisiensi manajemen tidak luput
dalam tindakan evaluasi dilakukan auditor internal.
7. Pengendalian Pemrosesan
Transaksi
Merupakan satu prosedur
yang dirancang untuk memastikan bahwa elemen proses pengendalian internal
diimplementasikan dalam suatu sistem aplikasi tertentu disetiap siklus
transaksi organisasi. Pengendalian pemrosesan transaksi mencakup pengendalian
umum dan pengendalian aplikasi. Pengendalian umum memengaruhi semua pemrosesan
transaksi. Pengendalian aplikasi merupakan pengendalian yang spesifik untuk
setiap aplikasi tertentu.
1. Pengendalian
Umum
Pengendalian umum mencakup hal-hal
berikut ini:
a.
Perencanaan
organisasi pemrosesan data
b. Prosedur operasi secara umum
c. Karakteristik pengendalian peralatan
d. Pengendalian akses data dan
peralatan
2. Pengendalian
Aplikasi
Dikelompokkan
menjadi pengendalian input, pengendalian proses, serta pengendalian output.
Pengelompokan ini terkait dengan langkah-langkah dalam siklus pemrosesan data.
a. Pengendalian input dirancang untuk
mencegah atau mendeteksi kesalahan pada tahap penginputan data.
b. Pengendalian proses dirancang untuk
memberikan keyakinan bahwa pemrosesan telah terjadi sesuai dengan spesifikasi
yang ditetapkan dan bahwa tidak ada transaksi yang terlewat yang tidak diproses
atau bahwa tidak ada transaksi tambahan yang mestinya tidak ikut diproses.
c. Pengendalian output dirancang untuk
memastikan bahwa input dan proses yang telah dijalankan menghasilkan output
yang valid dan bahwa output telah didistribusikan secara tepat.
3. Pengendalian
Preventif, Detektif, dan Korektif
Pengendalian
dikelompokkan berdasarkan sifat :
a. Pengendalian preventif berperan
untuk mencegah terjadinya kesalahan dan kecurangan.
b. Pengendalian detektif berperan untuk
mengungkapkan kesalahan dan kecurangan yang telah terjadi.
c. Pengendalian korektif berperan untuk
membetulkan kesalahan yang telah terjadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar