Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu Mata
Kuliah Sistem Informasi Akuntansi dengan identitas mahasiswa sebagai berikut :
Nama :
Istifah Rianar
NPM :
113080105
Kelas :
4.D
Prodi :
Pendidikan Ekonomi
Mata Kuliah :
Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
Dosen :
Moh. Joharudin, S.Pd. M.Pd
Pertemuan Ke : 7 (Tujuh)
Hari/Tanggal : Kamis / 22 Desember 2016
Proses Bisnis dalam Produksi
A. Pengertian Produksi
Produksi adalah kegiatan menghasilkan atau menambah
nilai guna barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produksi dapat
dilakukan secara perseorangan (individu) maupun berkelompok. Orang atau pihak
yang menghasilkan barang disebut produsen. Hasil produksi berupa barang atau
jasa.
Dalam ekonomi, produksi diartikan sebagai suatu
kegiatan dari berbagai lapangan usaha yang dilakukan oleh suatu masyarakat.
Kegiatan produksi dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
a. Menurut lapangan usahannya
1) Produksi sektor primer
2) Produksi sektor sekunder
3) Produksi sektor tersier
b. Menurut kepemilikannya
1) Produksi sektor publik
2) Produksi sektor swasta
c. Menurut tujuannya
1) Produksi sektor konsumsi
2) Ptoduksi sektor investasi
B. Faktor-Faktor Produksi
a. Faktor produksi alam
Faktor
produksi alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat
dimanfaatkan sebagai alat pemuas kebutuhan.
Ciri-cirinya:
1) Tersebar
tidak merata diberbagai tempat
2) Jumlah terbatas
3) Ada yang dapat di
perbaharui dan ada yang tidak dapat diperbaharui
Macam-macam faktor produksi alam
1) Faktor produksi alam
yang tidak dapat di perbaharui
2) Faktor produksi alam
yang dapat di perbaharui
3) Sumber daya produksi
alam berupa sumber energy
b. Faktor produksi tenaga kerja
Faktor
produksi tenaga kerja memegang perencanaan, sehingga harus selalu ditingkat
kemampuan atau keahliannya baik melalui pendidikan formal maupun non formal.
c. Faktor produksi modal
modal memiliki peranan penting dalam proses pengadaan barang dan jasa.
Dengan modal yang memadai akan terjadinya kelancaran dalam menjalankan kegiatan
ekonomi
d. Faktor produksi kewirausahaan
Faktor produksi kewirausahaan adalah faktor produksi yang perlu dimiliki
seorang pengusaha dalam menentukan faktor faktor produksi, yang meliputi faktor
produksi alam, tenaga kerja dan modal. Faktor produksi kewirausahaan sangat
diperlukan dalam mengendalikan dan mengelola badan usaha atau perusahaan.
C. Pengertian Manajemen Produksi
Manajemen Produksi adalah salah satu cabang manajemen
yang kegiatannya mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan suatu
barang dan jasa. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu dibuat keputusan-keputusan
yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar barang dan jasa
yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Manajemen operasi adalah suatu proses yang
berkesinambungan dan efektif menggunakan fungsi manajemen dan untuk
mengintegrasikan berbagai sumber daya secara efisien dalam rangka mencapai
tujuan.
Unsur Manajemen terdiri dari ; perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan.
1) Tahap
Perencanaan, meliputi : Penentuan strategi operasi, penentuan lokasi pabrik,
Riset dan pengembangan produk, penentuan jumlah produk, penentuan luas dan pola
produksi, penyusunan layout & job design, serta penentuan standar kerja.
2) Tahap Pelaksanaan, meliputi
: pengaturan bahan baku, pengturan proses produksi, pemeliharaan dan
penggantian fasilitas, perbaikan lingkungan kerja dan perbaikan kesejahteraan
pekerja.
3) Tahap Pengawasan,
meliputi : pengawasan kuantitas, pengawasan kualitas, dan pengawasan biaya
produksi dan operasi.
Dengan demikian, Manajemen Produksi atau Operasi
menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses produksi untuk
mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
D. Penentuan Lokasi Perusahaan Dalam Produksi
a. Terdapat 2 kriteria dalam menentukan
lokasi produksi:
1) Kriteria subyektif,
keputusan lokasi produksi berdasarkan pertimbangan subyektif pemilik perusahaan
dimana keputusan subyektif ini akan sangat membantu tercapainya
keberhasilan dalam bisnis sekiranya keputusan subyektif ini didukung oleh
berbagai faktor yang memperkuat keputusan subjektif.
2) Kriteria obyektif,
mempertimbangkan berbagai faktor yang akan mendukung tercapainya keberhasilan.
Seperti regulasi pemerintah seputar bisnis yang dijalankan, budaya masyarakat,
akses terhadap pasar dan pemasok, tingkat persaingan, akses transportasi dan
lain-lain.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pilihan Lokasi Kerja:
1) Biaya ruang
kerja
Biaya untuk membeli ruang kerja dapat berbeda dari
satu lokasi ke lokasi lain tergantung dari letak tanah.
2) Ketersediaan dan
biaya tenaga kerja
Perusahaa dapat memilih lokasi dimana terdapat banyak
tenaga kerja dengan keahlian khusus yang diperlukan. Biaya tenaga kerja sangat
bervariasi tergantung dari lokasi perusahaan.
3) Insentif pajak
Insentif pajak diberikan untuk menambah lapangan kerja
dan memperbaiki kondisi ekonomi di daerah-daerah yang menawarkan kridit pajak.
4) Sumber
permintaan
Biaya trasportasi dan jasa produk dapat dikurangi
dengan memproduksi di lokasi yang dekat sumber permintaan dari konsumen.
5) Akses
trasportasi
Perusahaan lebih memilih lokasi dekat sumber utama
transportasi agar para konsumen lebih mudah mengakses perusahaan.
dalam menentukan lokasi bisnis manufaktur dan jasa ada
beberapa cara antara lain.
c. Lokasi bisnis Manufaktur (penghasil barang)
Model-model penghitungannya:
1) Dengan
penghitungan biaya angkut dan jarak yang paling rendah
Contoh: perusahaan konveksi, lebih memilih lokasi
didaerah kudus yang dekat dengan pasar kliwon, untuk memasarkan produknya,
bahan bakunya pun didaerah kudus banyak tersedia.
2) Metode
perbandingan biaya operasi
Memilih beberapa alternatif lokasi, kemudian
diperbandingkan dan dipilih alternatif lokasi dengan biaya operasi paling
rendah.
3) Dengan
pendekatan kualitatif
Contoh: pabrik semen dan minyak, memilih lokasi yang
dekat dengan bahan baku.
d. Lokasi bisnis jasa
Bisnis jasa lebih diprioritaskan yang lokasinya
setrategis, karena tidak ada biaya angkut, namun bisnis jasa yang mendatangi
konsumen seperti jasa sedot WC, tidak perlu strategis yang terpenting adalah
sarana komunikasinya kepada konsumen, cukup dengan menempel nomor telephon.
E. Rancangan Pabrik Dan Sistem Produksi
Rancangan (Design) menunjukkan ukuran dan struktur
pabrik atau kantor.Tata Letak (Layout) adalah pengaturan mesin dan perlengkapan
didalam pabrik atau kantor. Yang dimaksud pabrik atau rumah produksi merupakan
tempat dimana kegiatan produksi dijalankan.
Keputusan mengenai desain rumah produksi merupakan
keputusan yang menyangkut bagaimana perusahaan mendesain tempat produksi dari
mulai fasilitas, pekerjaan, ruang kerja, gudang dan lain-lain. Sebagai contoh
untuk perusahaan garmen, perlu ditentukan dimana meletakkan bahan baku,
menempatkan pekerja, mesin dan menyimpan hasil akhir. Begitu juga dalam bisnis
restoran, manajer perlu menentukan dimana letak kasir,meja makan, dapur,
toilet, hingga lokasi parkir.
Rancangan sistem produksi menyangkut bagaimana proses
konversi dalam sistem produksi dilakukan. Terdapat beberapa jenis rancangan
dalam sistem produksi sebagai berikut :
a. Rancangan Produksi
Adalah rancanga sistem produksi yang bersifat
berkesinambungan dari awal hingga akhir dan mengikuti satu pola proses
produksi. Sebagai contoh, proses pembuatan kain dari kapas hingga kain jadi.
Tahapan proses pembuatan kain tersebut mulai dari bahan baku berupa kapas
disiapkan, kapas dipintal menjadi kain dalam mesin pintal, kain yang sudah jadi
melalui pembersihan, kemudian kain dan diwarnai dan dibersihkan lagi kemudian
dikeringkan, lalu kain melalui proses penggulungan kemudian digudangkan.
b. Rancangan Proses
Yaitu rancangan sitem produksi yang proses produksinya
mengikuti jenis proses yang harus dilakuakan dan tak selalu harus mengikuti
seluruh proses yang ada. Contah, proses pemariksaan kesehatann disebuah
poliklinik. Proses dimulai dari pasien datang, mendafter ke resepsionis lalu
menunggu diruang tunggu. Proses selanjutnya sangat bergantung jasa apa yang
diinginkan oleh pasien, apakah perlu kedokter anak, ahli penyakit dalam atau
pemeriksaan gigi
c. Rancangan Posisi Tetap
Adalah sistem produksi dimana produk yang akan dibuat
diletakkan disatu tempat, dan berbagai fasilitas seperti mesin, alat produksi,
dan tenaga kerjanya mengerjakan proses produksi ditempat tersebut. Contah,
pembuatan pesawat terbang, atau proses make up artis.
Keputusan mengenai rancangan dan tata letak
mempengaruhi biaya operasi secara langsung karena keputusan ini menentukan
harga sewa, mesin dan perlengkapan. Hal ini dapat berpengaruh pula pada
pengeluaran untuk bunga karena mempengaruhi jumlah pinjaman untuk memeli
properti atau mesin.
d. Prinsip dalam penetapan layout, agar
diperoleh : jarak angkut minimum, aliran matarian seimbang dengan kapasitas,
penggunaan ruang efektif, fleksibel untuk perubahan.
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi
rancangan dan tata letak adalah karakteristik lokasi. Jika lokasi terdapat
didaerah yang harga lahannya mahal, dapat dirancang gedung tingkat tinggi agar
mengurangi biaya lahan yang dibutuhkan, Proses prosuksi. Rancangan dan tata
letak akan dipengaruhi ketiga rancangan sistem proses produksi diatas,jenis produksi.
Rancangan dan tata letak akan dipengaruhi oleh sedikit banyaknya jenis produksi
yang dihasilkan, kapasitas produksi yang diinginkan. Rancangan dan tata letak
harus mampu disesuaikan dengan penambahan atau pengurangan kapasitas jumlah
produksi yang diinginkan.
F. Perencanaan Jumlah Produksi Dan Penentuan
Standar
Perkiraan
jumlah produk yang dibuat diwaktu yang akan datang dan penentuan standar dapat
dilakukan beberapa cara antara lain :
1). Penghitungan Forecast Produksi
2). Forecast produksi didasarkan
forecast penjualan perusahaan. Forecast penjualan dapat dilakukan dengan metode
statistik dan metode pendapatan. Besarnya forecast produksi dirumuskan :
3). Dasar Perhitungan BEP (Unit)
4). BEP (Break Even Point) adalah suatu
keadaan pada titik atau jumlah penjualan itu perusahaan tidak laba dan tidak
rugi yang berarti total biaya (Total cost) sama dengan total pendapatan (total
revenue). Jumlah produk di buat harus lebih besar dari unit terjual pada BEP.
5). Perhitungan BEP mempunyai asumsi,
bahwa : Biaya dapat dipisah menjadi biaya tetap dan variable; Haraga jual dan
biaya varibel per unit dalam periode perhitungn selalu tetap; Semua produksi
terjual habis sehingga kuantitas penjualan sama dangan produksi.
6). Penentuan Standar Kinerja
Standar kerja yang harus ditetapkan
meliputi :
- Standar
Kualitas
Standar mengenai kualitas barang atau jasa yang
dihasilkan, dapat dilakukan standar per atribut dari barang dan jasa. Untuk
menjamin kualitas barang perlu pengendalian mutu terpadu. Standar kualitas ini
mencakup rencana, proses produksi, monitoring dan tindak lanjut.
- Standar
Kuantitas
Standar mengenai jumlah barang yang harus dibuat dalam
suatu periode tertentu untuk mencapai tujuan dan pertumbuhan perusahaan.
- Standar
Waktu Proses
Standar waktu yang dibutuhkan untuk proses produksi
yang normal agar diperoleh efisiensi yang maksimal.
- Standar
Produktivitas (Productivity
Standar mengenai rasio antara output dari proses
produksi dan input yang digunakan. Ukuran productivity dapat diukur baik secara
total maupun partial atau bagian-bagiannya. Ukuran productivity antara lain
sebagai berikut:
a. Total factor Productivity, dihitung
denga membaagi Output perusahaan dengan Labor + Capital + Material + Energy
input + Businnes service.
b. Material Productivity, dihitung
dengan membagi Output dengan material.
c. Labour Productivity, dihitung dengan
membagi Output dengan jumlah Labor.
F. Pengawasan Kegiatan Produksi
Pengawasan
dalam kegiatan produksi perlu dilakukan yaitu: pada kegiatan perencanaan atau
desainnya, proses produksinya, monitoringnya maupun tindak lanjut dari
monitoring itu. Pengawasan dilakukan pada seluruh aspek kegiatan yang berkaitan
dengan produksi, meliputi: pada kegiatan proses produksi; pada kualitas
produksi atau jasa yang dihasilkan; pada biaya produksi/operasi yang
dikeluarkan; pada tenaga keerja yang melakukan kegiatan produksi.
a. Pembelian Bahan Baku
Para menejer melakukan tugas-tugas
berikut ketika persediaan barang. Pertama memilih pemasok bahan baku dengan
memperhatikan karekteristik seperti harga, kecepatan, kualitas, layanan dan
ketersediaan kredit. Kedua mencoba mendapatkan potongan/diskon menurut volume.
Ketiga menyerahkan produksi kepada pemasok.
b. Pengawasan Persediaan Bahan Baku
Pengawasan persediaan adalah proses
pengelola persediaan pada tingkat yang meminimkan biaya. Perencanaan kebutuhan
bahan baku adalah proses untuk menjamin bahawa bahan baku tersedia bila mana
diperlukan.
c. Routing
Roting ialah urutan (rute) tugas
yang perlu nuntuk menghasilkan sebuah produk. Bahan baku biasanya dikirimkan ke
masing-masing pos krja (work station) agar dapat dipakai sesuai spesifikasi
proses produksi. Bagian tertentu dari proses produksi diselesaikan disetiap pos
kerja. Proses routing biasanya dievaluasi secara periodik untuk menentukan
apakah bias ditingkatkan sehingga mendapat proses produksi yang lebih cepat dan
murah.
d. Penjadwalan
Penjadwalan adalah tindakan
menentukan periode waktu untuk setiap tugas dalam proses produksi. Jadwal
produksi adalah rancangan untuk timing dan volume tugas produksi. Penjadwalan
dapat menunjukkan kapan setiap tugas harus diselesaikan. Cara untuk
menjadwalkan proyek khusus adalah teknik evaluasi dan peninjauan program
(program evaluation and review technique-PERT), menjadwalkan tugas dengan cara
meminimkan hambatan proses produksi.
e. Pengawasan Kualitas
Kualitas adalah dimana derajat
dimana barang atau jasa memuaskan persyaratan atau harapan pelanggan.
Pengawasan kualitas merupakan proses untuk menentukan apakah kualitas barang
atau jasa memenuhi tingkat kualitas yang diharapkan dan mengidentifikasi
perbaikan yang perlu dilakukan pada proses produksi. Kualiatas dapat diukur
dengan menilai beberapa karakteristik yang meningkatkan kepuasan pelanggan.
f. Pengawasan dilakukan pada berbagai
waktu dari aktivitas produksi meliputi: pada saat menentukan desain atau
rancangan produk; pada saat perencanaan proses produksi; pada aktivitas
monitoring; pada akhir proses produksi.
Cara Pengawasan
1). Pengawasan Terhadap Produk
Dengan Sertivikasi terhadap produk
dapat dilakukan dengan mengupayakan sertifikat berdasar standart industri,
asosiasi dan sebagainya.
2). Pemeriksaan Laboratorium
Pemerikasaan laboratorium dilakukan
untuk mengendalikan kualitas produk terhadap unsur kimiawinya yang dikandung.
3). Penilaian Dari Pendapat Konsumen
Pendapat konsumen didapat dari
survei kepada konsumen dengan mengedarkan daftar pertanyaan untuk dijawab
mengenai kualitas produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan.
4). Pengawasan Terhadap Proses Produksi
-
Dengan
Penerapan Gugus Kembali Mutu (GKM)
Proses produksi dengan membentuk
gugus yang terdiri dari tiga sampai delapan orang yang pekerjanya sejenis.
-
Perolehan
Sertifikasi ISO
Sertifikat ISO diberikan kepada
perusahaan yang memenuhi standart organisasi ISO pada perencanaannya atau
proses produksinya atau pengawasannya atau pada tindak lanjutnya.
-
Pengawasan
Terhadap Tenaga Kerja Dengan Standart Produktifitas
Pengawasan ini dilakukan dengan
membandingkan antara kinerja para tenaga kerja dengan standart yang ditetapkan
sebelumnya.
-
Pengawasan
Terhadap Standart Produksi
Dengan menegement control systems
atau system pengendalian manejemen. Caranya dengan selalu membandingkan antara
anggaran atau standart yang lain dengan realita pembelanjaan di bagian
produksi.
Referensi :
Muhammad
Husni Mubarok, M.M. Pengantar Bisnis. Kudus: Sekolah Tinggi
Agama Islam
Negeri
(STAIN). 2010
Al arif,M.Nur Rianto dan Euis Amalia .2010.Teori Mikro Ekonomi.Jakarta:Kencana
Bangun,Wilson.2007.Teori Ekonomi Mikro.Bandung:Refika
Aditama

